Dalam kancah politik Thailand, sosok Thaksin Shinawatra tetap menjadi tentara perdebatan, bahkan setelah bertahun-tahun pengasingan. Putri Thaksin, Paetongtarn Shinawatra, yang saat ini menjadi salah satu figur kunci dalam Partai Pheu Thai, tidak luput dari sorotan. Ia terkadang dianggap sebagai pewaris politik ayahnya, sebuah sikap yang seringkali menggugah rasa skeptis di kalangan oposisi.
Konteks Politik
Thaksin Shinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand, melarikan diri pada tahun 2006 setelah digulingkan dalam sebuah kudeta militer. Meskipun Thaksin tidak dapat kembali ke negara asalnya, pengaruhnya tetap kuat, dan kekuatannya masih terasa melalui anak-anaknya, khususnya Paetongtarn. Sejak diluncurkan dalam arena politik, Paetongtarn berupaya untuk menemukan identitas politiknya sendiri, meski bayang-bayang ayahnya selalu membayangi.
Kebangkitan Partai Pheu Thai
Partai Pheu Thai, yang didirikan oleh Thaksin dan kembali muncul sebagai pemain kunci dalam politik, mendapatkan dukungan luas dalam pemilu terakhir. Paetongtarn, yang diharapkan mampu menarik pemilih muda, seringkali menemukan dirinya dalam situasi yang sulit. Dukungan terhadapnya acap kali berseberangan dengan elemen-elemen pro-militer dan kelompok oposisi yang khawatir akan kebangkitan politik Thaksin dan keluarganya.
‘Dirujak’ Oleh Oposisi
Oposisi yang berusaha keras untuk menghalangi kembali kekuasaan Thaksin melalui putrinya, kerap menggunakan taktik ‘dirujak’, yaitu memperkecil kredibilitas politik Paetongtarn dengan mengaitkan setiap langkahnya dengan pengaruh yang didapat dari ayahnya. Mereka berargumen bahwa keterlibatan Paetongtarn dalam politik bukanlah karena kemampuannya sendiri, melainkan karena lineage politiknya. Situasi ini menjadi dilema bagi banyak pemilih yang ingin melihat kepemimpinan baru tanpa bayang-bayang masa lalu.
Harapan dan Tantangan
Paetongtarn memiliki harapan untuk mereformasi citra Pheu Thai dan mendorong agenda progresif yang diharapkan mampu mengedukasi generasi baru pemilih. Namun, tantangan besar tetap ada. Dalam menghadapi oposisi yang agresif dan skeptisisme masyarakat, ia harus dapat menunjukkan bahwa ia bukan hanya pewaris, tetapi juga pemimpin yang mampu berdiri sendiri.
Meskipun langkah politik Paetongtarn Shinawatra tampak terhambat oleh pengaruh ayahnya, masa depan politiknya masih dalam perjalanan panjang. Bagaimana ia menavigasi situasi ini dan membangun reputasi politik yang mandiri akan menjadi kunci kesuksesannya. Di Thailand, di mana sejarah politik kerap mengulangi dirinya, Paetongtarn mungkin bisa menjadi simbol perubahan – atau, sebaliknya, pengulangan siklus kekuasaan yang sama.